Belajar Sepanjang hayat di masyarakat jawa mungkin bisa dipaksa cocok dengan istilah "kebo nusu gudel". Dalam istilah jawa ungkapan tersebut kurang lebih artinya orang tua belajar kepada orang yang lebih muda, arti tersebut bisa diperluas belajar kepada siapapun dan apapun.
Dalam era milenia ini kita banyak belajar dari anak-anak tentang gadget, internet dan hal lain yang belum kita fahami. Jika kita tidak belajar kita akan tertinggal dan mungkin kita akan jadi korban. Pengalaman pahit yang tak terlupakan saat seorang murid ijin kepada saya, saat itu dia ijin akan menengok saudaranya di luar kota yang sedang sakit. Murid tersebut memperlihatkan SMS yang seolah-olah berasal dari Bapaknya padahal SMS tersebut berasal dari temannya, akhirnya sebagai wali kelas saya "kebobolan" anak itu ternyata sudah janjian dengan temannya untuk pergi ke luar kota. Kala itu saya anti pati dengan HP dan saya berpikir tidak pakai HP "ora patheken". Dari pengalaman tersebut saya mulai belajar menggunakan HP dan kebetulan ada teman yang baik hati memberi HP kepada saya.
Seseorang dalam tulisannya di blog mengatakan jika tidak belajar kita akan "mati" pendapat tersebut saya kira juga tidak salah, karena saat kita puas tentang diri kita, tentang ilmu yang kita pelajari kita akan ketinggalan dan orang akan menganggap kita bebal. Sebagai contoh saat kita menganggap diri kita sudah cukup berjiwa sosial suatu saat kita akan terperangah saat kita melihat tetangga kita lebih sosial dari kita, saat kita menganggap diri kita saleh dengan kepercayaan yang kita anut sementara orang lain lebih saleh dari kita. Belajar dari jiwa sosial tetangga kita dan kesalehan dari orang lain akan mendorong kita lebih berjiwa sosial dan saleh.
Banyak bahan belajar yang bisa kita simak dari perjalanan hidup ini, bahkan dari hal yang tidak menyenangkan. Saat kita "layat" banyak hal yang dapat kita pelajari, coba kita lihat dari sisi keluarga yang ditinggalkan kita akan melihat: 1)kerukunan antar saudara dalam keluarga tersebut, indikator yang mudah kita lihat bila dalam anggota keluarga tersebut saling menyalahkan dan melempar tanggung jawab dapat dipastikan hubungan antar keluarga tidak harmonis. 2)hubungan dengan tetangga dan pengurus kampung juga terlihat saat kita datang di rumah duka. Dari silaturohmi di rumah duka tersebut kita dapat intropeksi diri dan akhirnya memperbaiki diri dan itulah pelajaran hidup yang tidak kita dapatkan di bangku sekolah.
Jika para pelajar tidak pernah mencoba membuat PR dan berlatih dari Pak Guru dan Bu Guru mereka tidak akan pandai. Berlaku pula dalam ilmu kehidupan, jika kita ingin lebih bijak harus lebih banyak berlatih dan belajar dari kehidupan di masyarakat walaupun lebih sulit dari PR di sekolah.
Pelajaran dari kehidupan tidak akan pernah berakhir saat kita belum mati oleh sebab itu kita harus menjadi orang yang terus belajar sepanjang hayat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar